“Kami membuat konsep teknologi berbiaya rendah, karena ingin teknologi ini dapat dengan mudah diterapkan pada level petani apapun dan disesuaikan dengan komoditas, luas lahan, kebutuhan dan teknologi apa yang ingin mereka gunakan.” jelas Detia.
Dia melihat banyak konsep smart farming tapi biayanya mahal dan tentunya petani belum mampu untuk membelinya.
“Pada level petani cabai yang tidak punya lahan yang besar, mengeluarkan biaya hingga 50 juta tentunya belum mampu, dan teknologi yang ada pada perangkat tersebut banyak yang berlebihan fiturnya, untuk itu kami menyesuaikan kebutuhan termasuk sensor yang ada”. tambahnya lagi.
Detia berharap dengan adanya kerjasama antara Polbangtan Gowa dan Startup TaburTuai dapat meningkatkan efisiensi dan kualitas produksi pertanian.
“Tentunya dengan menyesuaikan fitur dengan kebutuhan dapat menekan biaya. Dengan startup Tabur Tuai kami dapat menekan pada harga 5-6 juta.
1 Komentar