suarakarsa.com – Kualitas udara di Kota Makassar dan sejumlah wilayah Sulawesi Selatan memburuk dalam beberapa hari terakhir. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah IV Makassar menyebut kondisi tersebut dipengaruhi asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan yang terbawa angin menuju Sulawesi Selatan.
Menyikapi kondisi tersebut, Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman menyiapkan surat edaran terkait penggunaan masker, terutama bagi masyarakat yang melakukan aktivitas dalam waktu lama di luar ruangan.
“Nanti baru buat edaran untuk yang wajib masker. Nanti kita mau analisis, kita data dulu nanti berapa (kadar bahayanya),” kata Andi Sudirman usai menghadiri kegiatan di GOR Sudiang Makassar, Minggu (4/10/2026).
Saat ditanya mengenai rencana penerbitan edaran resmi, Andi Sudirman menegaskan masyarakat yang beraktivitas cukup lama di luar ruangan perlu menggunakan masker sebagai perlindungan terhadap paparan polusi.
“Ya, yang lama di luar harus pakai masker,” ujarnya.
Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin juga mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan selama kualitas udara masih berada dalam kondisi kurang baik.
Menurut Munafri, penggunaan masker ketika melakukan aktivitas di luar ruangan penting untuk mengurangi dampak paparan polusi.
“Kalau bisa di kegiatan outdoor ini menggunakan masker atau pengaman supaya memastikan bahwa udara yang sekarang kondisinya lagi kurang baik ini tidak langsung berdampak pada kita,” kata Munafri.
Ia berharap kondisi cuaca dan kualitas udara segera membaik. Namun, apabila kondisi tersebut terus memburuk, Pemkot Makassar mempertimbangkan langkah lanjutan untuk melindungi masyarakat.
“Pasti akan kita membuat edaran yang lebih maksimal. Karena kondisinya memang dengan udara yang sangat kering ini sangat mengganggu. Kalau tidak langsung diintervensi, ini bisa mengakibatkan banyak hal yang lebih parah terutama penyakit-penyakit terhadap saluran pernapasan dan sebagainya,” ujarnya.
Sebelumnya, BMKG Wilayah IV Makassar mencatat memburuknya kualitas udara di wilayah Maros dan sekitarnya, termasuk Kota Makassar.
Pemantauan menunjukkan konsentrasi Particulate Matter (PM) 2,5 berada pada kategori sedang hingga tidak sehat. Partikel PM2.5 menjadi perhatian karena berukuran sangat kecil dan dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan.
Prakirawan BMKG Wilayah IV Makassar Asriani Idrus mengatakan suhu udara yang berada pada kisaran 30 hingga 35 derajat Celsius masih tergolong normal. Kondisi tersebut berkaitan dengan Sulawesi Selatan yang sedang berada pada puncak musim kemarau.
Namun, kondisi yang perlu diwaspadai adalah penurunan kualitas udara akibat sebaran partikel asap.
“Kami melihat dari peta sebaran asap, arah angin dominan saat ini memang dari timur. Tapi data AWS menunjukkan angin juga datang dari barat. Penyebab utamanya adalah asap kebakaran hutan yang pusatnya terlihat di Kalimantan. Kemungkinan besar asap itu terbawa dari Kalimantan ke Sulawesi Selatan,” kata Asriani.
Menurut BMKG, emisi kendaraan bukan menjadi faktor utama memburuknya kualitas udara saat ini. Perubahan arah angin menjadi salah satu faktor penting yang membawa partikel asap dari wilayah lain menuju Sulawesi Selatan.
“Faktor utamanya memang asap kiriman. Selain Kalimantan, jika angin dominan dari timur, asap dari kebakaran hutan di Papua dan Maluku juga bisa terbawa ke wilayah Sulawesi,” ujarnya.
BMKG mencatat kondisi kualitas udara terburuk umumnya terjadi pada dini hari hingga pagi hari. Menjelang siang, kualitas udara biasanya mulai membaik seiring perubahan kondisi atmosfer.
Namun, kondisi udara tidak sehat masih berpotensi terjadi dalam beberapa hari ke depan. Salah satu penyebabnya adalah jumlah titik panas atau hotspot di Kalimantan yang masih cukup tinggi dan belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Karena itu, masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan, terutama kelompok yang lebih rentan terhadap paparan polusi udara.
Anak-anak, lanjut usia, serta masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan. Penggunaan masker juga dianjurkan ketika harus beraktivitas di area terbuka, terutama saat kondisi kualitas udara sedang memburuk.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan