suarakarsa.com – Terminal kargo memiliki peran penting dalam rantai pasok logistik Indonesia. Di sinilah proses bongkar muat, penyimpanan sementara, hingga distribusi barang berlangsung sebelum melanjutkan perjalanan ke tangan pelanggan. 

Namun, di balik peran vitalnya, terminal kargo juga menghadapi berbagai tantangan operasional yang sering kali memengaruhi efisiensi, biaya, dan kepuasan pelanggan.

Dalam konteks bisnis yang bergerak cepat seperti saat ini terutama dengan meningkatnya volume e-commerce dan perdagangan internasional keterlambatan sekecil apa pun bisa berdampak besar. 

Oleh karena itu, penting bagi pelaku industri logistik untuk memahami apa saja hambatan yang umum terjadi dan bagaimana solusi inovatif bisa diterapkan agar operasional tetap lancar.

1. Kompleksitas Koordinasi Antar Pihak

Salah satu tantangan terbesar di terminal kargo adalah koordinasi. Dalam satu rantai proses, ada banyak pihak yang terlibat mulai dari operator pelabuhan, bea cukai, pengangkut darat, hingga pihak gudang. Kurangnya komunikasi dan transparansi antar pihak sering kali menyebabkan kebingungan dan keterlambatan.

Sebagai contoh, jika dokumen pengiriman belum disetujui oleh pihak bea cukai tepat waktu, barang bisa tertahan di terminal hingga berhari-hari. Akibatnya, biaya demurrage meningkat dan pelanggan menjadi tidak puas.

Solusi inovatifnya: penggunaan platform digital terpadu seperti integrated logistics system yang dapat menghubungkan semua pihak dalam satu dashboard. Dengan sistem ini, setiap pihak bisa memantau status kargo secara real-time, meminimalkan miskomunikasi, dan mempercepat proses administrasi.

2. Masalah Infrastruktur dan Keterbatasan Kapasitas

Meski Indonesia memiliki banyak pelabuhan besar, seperti Tanjung Priok dan Tanjung Perak, masih banyak terminal kargo di daerah yang menghadapi kendala infrastruktur. Jalan menuju terminal yang sempit, fasilitas bongkar muat yang terbatas, serta kurangnya alat berat modern menjadi penghambat utama efisiensi operasional.

Data dari Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) menunjukkan bahwa tingkat keterlambatan kargo domestik bisa mencapai 20–25% karena kendala infrastruktur dan cuaca buruk.

Solusi inovatifnya: investasi dalam modernisasi alat bongkar muat seperti automated stacking cranes dan smart weighing systems. Selain itu, pemanfaatan teknologi IoT (Internet of Things) untuk memantau kondisi infrastruktur juga bisa membantu mendeteksi potensi kerusakan lebih awal, sehingga tidak menimbulkan gangguan operasional di kemudian hari.

3. Ketidakefisienan Proses Manual

Masih banyak terminal di Indonesia yang mengandalkan pencatatan manual untuk pelacakan barang dan dokumen. Sistem ini bukan hanya memperlambat pekerjaan, tapi juga meningkatkan risiko kesalahan data.

Dalam era digital seperti sekarang, kecepatan dan akurasi menjadi faktor penentu daya saing. Proses yang lambat akan membuat biaya operasional meningkat karena waktu tunggu lebih lama dan tenaga kerja lebih banyak dibutuhkan.

Solusi inovatifnya: digitalisasi dokumen kargo melalui e-freight system dan penggunaan barcode atau RFID (Radio Frequency Identification) untuk pelacakan otomatis. Sistem ini dapat mempercepat verifikasi dokumen dan mengurangi risiko kehilangan data.

4. Tantangan Keamanan Barang

Masalah kehilangan, pencurian, atau kerusakan barang di terminal masih menjadi isu serius di Indonesia. Apalagi ketika volume pengiriman meningkat pesat, risiko ini semakin tinggi jika tidak diimbangi dengan sistem keamanan yang memadai.

Selain kerugian material, insiden semacam ini bisa merusak reputasi perusahaan logistik di mata klien.

Solusi inovatifnya: penerapan sistem keamanan berbasis AI seperti smart surveillance camera yang mampu mengenali aktivitas mencurigakan secara otomatis. Selain itu, asuransi kargo juga menjadi pelindung penting bagi perusahaan agar tetap memiliki jaminan finansial jika terjadi kerugian.

5. Kurangnya Integrasi Data dan Analitik

Banyak perusahaan logistik di Indonesia masih belum memanfaatkan potensi data secara maksimal. Padahal, data operasional yang dihasilkan setiap hari bisa menjadi sumber insight berharga untuk meningkatkan efisiensi.

Misalnya, dengan analisis data, perusahaan bisa mengetahui waktu puncak kedatangan kargo dan mengatur jadwal kerja agar tidak terjadi penumpukan. Namun tanpa sistem integrasi, data ini sering kali tersebar di berbagai departemen dan sulit diolah.

Solusi inovatifnya: penggunaan data analytics dashboard yang dapat memvisualisasikan performa operasional secara real-time. Dengan cara ini, manajemen dapat mengambil keputusan berbasis data dan merespons cepat jika terjadi gangguan di lapangan.

6. Sumber Daya Manusia yang Belum Terlatih Digital

Tantangan lain yang sering dihadapi adalah kesenjangan kemampuan digital di kalangan tenaga kerja. Tidak semua pekerja di terminal kargo terbiasa menggunakan teknologi baru, sehingga proses adopsi inovasi menjadi lebih lambat.

Padahal, dalam era otomatisasi, kemampuan membaca data, mengoperasikan perangkat digital, dan memahami alur sistem sudah menjadi keharusan.

Solusi inovatifnya: pelatihan intensif berbasis praktik langsung serta kemitraan dengan penyedia teknologi logistik seperti forwarder.ai yang menyediakan sistem pengelolaan kargo berbasis AI untuk mempermudah koordinasi dan optimasi rute pengiriman.

Dengan penerapan teknologi digital, pengelolaan berbasis data, dan investasi pada sumber daya manusia, tantangan operasional bisa diubah menjadi peluang pertumbuhan.

Pada akhirnya, efisiensi terminal kargo bukan hanya soal kecepatan bongkar muat, tapi juga tentang bagaimana sistem bekerja secara menyeluruh dari transparansi data hingga keamanan pengiriman. Dengan langkah-langkah inovatif ini, Indonesia bisa memperkuat posisinya sebagai salah satu pusat logistik terpenting di Asia Tenggara.