Namun kini dengan memanfaatkan IT, kekurangan tenaga juga keuangan cukup dapat teratasi, sepanjang daerah itu masih mendapatkan signal maka program pemyuluhan dapat tetap berjalan,” paparnya.
Lebih lanjut dirinya menuturkan, kegiatan SIMURP utamanya ditujukan untuk membangun resiliensi ketangguhan pertanian Indonesia terhadap Climate Change. “Oleh karena itu, di dalam SIMURP disajikan berbagai inovasi teknologi yang betul-betul adaptif dan mitigatif terhadap perubahan iklim yang terjadi. Juga mampu beradaptasi dari cekaman biotik yaitu tahan hama penyakit, maupun abiotik yaitu kekeringan dan banjir dan intrusi air laut. Selain itu teknologi yang mitigatif yang mampu meminimalkan emisi gas rumah kaca, rendah emisi metan seperti dodokan dan sebagainya”, jelasnya.
Sementara itu, Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian, Bustanul Arifin Caya mengatakan, penerapan program SIMURP berdampak pada produktivitas pertanian yang signifikan mencapai 30% hingga 45%. Dengan penerapan CSA (Climate Smart Agriculture) terbukti ramah lingkungan, menekan kerusakan lingkungan sebab dari bahan agro kimia seperti resilen pestisida dan logam berat.
Tinggalkan Balasan