suarakarsa.com – Harga emas dunia melonjak signifikan menyusul meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah setelah Amerika Serikat dan Israel dilaporkan melancarkan serangan terhadap Iran pada Sabtu (28/2/2026). Serangan tersebut terjadi di tengah kebuntuan perundingan nuklir dan memicu kekhawatiran baru di pasar global.

Berdasarkan data perdagangan TradingView pada Minggu (1/3/2026), harga emas spot terbaru menembus level 5.278 dollar AS per ons. Meski demikian, harga emas sebelumnya sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah mendekati 5.608 dollar AS per ons pada Januari 2026.

Para analis menilai, harga emas masih berpeluang mencetak rekor baru apabila situasi kawasan semakin memburuk dan konflik meluas.

Emas Jadi Aset Safe Haven

Dalam kondisi ketidakpastian global, emas kembali dipandang sebagai aset safe haven utama bagi investor. Kepala Ekonom First Seafront Fund yang berbasis di Shenzhen, Yang Delong, mengatakan dalam wawancara dengan Global Times bahwa eskalasi konflik meningkatkan premi risiko di pasar keuangan.

Meski pasar tutup pada akhir pekan, perdagangan elektronik menunjukkan harga emas spot terus bergerak lebih tinggi. Analis secara luas memperkirakan akan terjadi lonjakan harga saat pembukaan perdagangan pada Senin (gap-up), didorong peningkatan permintaan aset aman.

“Peningkatan ketegangan geopolitik menyusul serangan AS-Israel terhadap Iran telah meningkatkan premi risiko saat perdagangan dilanjutkan. Pasar bersiap untuk respons penghindaran risiko klasik. Investasi aset aman seperti emas dan perak siap untuk potensi kenaikan harga di pembukaan, sementara minyak mentah dapat menguat lebih lanjut karena kekhawatiran akan kemungkinan gangguan pasokan,” ujar Yang.

Harga Minyak Dunia Turut Naik

Tak hanya emas, harga minyak mentah internasional juga mencatat kenaikan sepanjang pekan ini. Laporan CCTV Finance menyebutkan minyak mentah Brent menyentuh level tertinggi dalam enam bulan terakhir.

Dalam skenario terburuk, apabila Iran menyerang fasilitas minyak di negara-negara Teluk dan mengganggu sebagian besar dari sekitar 18 juta barel minyak mentah per hari yang dipasok dari kawasan tersebut, harga minyak dunia berpotensi melonjak hingga melampaui 130 dollar AS per barel.

Sementara itu, Reuters melaporkan, sejumlah perusahaan minyak besar dan perusahaan dagang utama menghentikan sementara pengiriman minyak mentah dan bahan bakar melalui Selat Hormuz. Langkah tersebut diambil setelah serangan terhadap Iran serta pernyataan Teheran yang menyebut jalur navigasi di kawasan itu ditutup.

Data perusahaan konsultan energi Kpler menunjukkan lebih dari 14 juta barel per hari melintasi Selat Hormuz pada 2025, setara sekitar sepertiga dari total ekspor minyak mentah global yang dikirim melalui jalur laut.

Dampak ke Pasar Saham

Peneliti Jiangsu Su Merchants Bank, Fu Yifu, dalam catatan analisisnya kepada Global Times menyebut dampak konflik berpotensi memengaruhi pergerakan pasar saham A dalam jangka pendek.

Menurut dia, sektor eksplorasi minyak dan gas, peralatan jasa perminyakan, emas dan logam mulia, industri pertahanan dan militer, serta batu bara dan kimia batu bara berpeluang mengalami kenaikan.

Pergerakan emas dan minyak ke depan akan sangat bergantung pada respons Iran serta sejauh mana konflik berkembang. Jika eskalasi meningkat, arus modal global diperkirakan semakin deras mengalir ke aset aman, sekaligus mendorong volatilitas lebih tinggi di pasar energi dan saham global.