suarakarsa.com – Harga emas dunia kembali menguat pada perdagangan Rabu setelah sebelumnya sempat jatuh ke level terendah dalam lebih dari sepekan. Kenaikan ini terutama dipicu aksi bargain hunting, yakni pembelian oleh pelaku pasar yang memanfaatkan harga murah di tengah ketidakpastian global, khususnya terkait kelanjutan pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran.

Mengutip laporan CNBC, Kamis (23/4/2026), harga emas spot naik 0,5% ke USD 4.735,65 per ounce, setelah sempat menguat hingga 1% pada awal sesi perdagangan. Sebelumnya, emas mengalami penurunan harian terbesar sejak 26 Maret. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Juni ditutup naik 0,7% ke USD 4.753,00 per ounce.

Analis senior dari Kitco Metals, Jim Wyckoff, menjelaskan bahwa penguatan ini merupakan respons alami pasar setelah tekanan tajam sehari sebelumnya. Ia menilai aksi beli tidak hanya terjadi pada emas, tetapi juga terlihat di pasar logam mulia lain seperti perak.

Dari sisi geopolitik, ketegangan masih menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan harga. Iran dilaporkan menyita dua kapal di Selat Hormuz pada Rabu. Di saat yang sama, Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa kebijakan blokade terhadap Iran akan tetap dilanjutkan. Hingga kini, belum ada indikasi jelas bahwa pembicaraan damai antara kedua negara akan segera dimulai kembali.

Situasi di Timur Tengah juga semakin kompleks. Gencatan senjata antara Israel dan Lebanon dilaporkan berada dalam kondisi rapuh setelah serangan drone Israel di wilayah Lebanon menewaskan sedikitnya tiga orang. Kondisi ini memperkuat sentimen ketidakpastian di pasar global.

Kepala strategi komoditas global di TD Securities, Bart Melek, menyatakan bahwa harga emas saat ini mendapat dukungan tambahan dari penurunan suku bunga di berbagai tenor, serta harapan meredanya ketegangan di jalur perdagangan energi penting seperti Selat Hormuz. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa pasar masih sangat rentan terhadap perubahan sentimen.

Sejak konflik antara AS dan Israel melawan Iran pecah pada 28 Februari, harga emas tercatat turun sekitar 11%. Lonjakan harga minyak akibat konflik tersebut turut memicu kekhawatiran inflasi global.

Dari sisi kebijakan moneter, kandidat Ketua Federal Reserve, Kevin Warsh, menegaskan bahwa dirinya tidak memberikan komitmen kepada Trump terkait arah suku bunga. Ia juga menekankan pentingnya independensi bank sentral dari tekanan politik.

Selain emas, logam mulia lainnya juga menunjukkan penguatan. Harga perak naik 1,4% menjadi USD 77,80 per ounce, platinum melonjak 2,1% ke USD 2.079,80, dan palladium naik 1,3% ke USD 1.553,43 per ounce.