suarakarsa.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih berada di bawah tekanan pada perdagangan terbaru, tercermin dari pergerakan kurs di sejumlah bank besar nasional yang bertahan di kisaran Rp 17.100–Rp 17.200 per dolar AS.
Berdasarkan data Kamis, 23 April 2026, kurs e-rate di Bank Central Asia (BCA) tercatat pada level beli Rp 17.145 dan jual Rp 17.225. Sementara itu, Bank Rakyat Indonesia (BRI) menetapkan kurs beli Rp 17.118 dan jual Rp 17.280. Di Bank Negara Indonesia (BNI), kurs berada di posisi beli Rp 17.100 dan jual Rp 17.250. Adapun Bank Mandiri masih mencatat kurs pada 22 April 2026 dengan posisi beli Rp 17.140 dan jual Rp 17.170.
Rentang kurs antarbank tersebut menunjukkan rupiah masih bergerak dalam tekanan, dengan harga jual dolar di beberapa bank telah menembus level Rp 17.200. Kondisi ini mengindikasikan permintaan dolar yang masih relatif kuat di pasar domestik.
Secara keseluruhan, pelemahan rupiah juga terlihat pada penutupan perdagangan sebelumnya. Mata uang Garuda tercatat melemah di tengah ketidakpastian global yang belum mereda.
Mengacu pada data pasar, rupiah ditutup melemah 38 poin atau sekitar 0,22% ke posisi Rp 17.181 per dolar AS, dari sebelumnya Rp 17.143 per dolar AS. Sementara itu, kurs referensi JISDOR juga turun ke Rp 17.179 per dolar AS dari Rp 17.142 per dolar AS.
Tekanan terhadap rupiah terutama dipengaruhi oleh faktor eksternal, khususnya dinamika geopolitik global. Kebijakan Presiden AS Donald Trump yang berupaya memperpanjang gencatan senjata dengan Iran untuk membuka ruang negosiasi lanjutan belum memberikan kepastian pasar, karena belum ada kesepakatan yang jelas dari pihak Iran maupun Israel.
Di sisi lain, kebijakan AS yang masih mempertahankan blokade terhadap Iran turut memperburuk sentimen global. Situasi ini mendorong investor beralih ke aset dolar AS sebagai safe haven, sehingga memperkuat posisi dolar di pasar internasional.
Dari dalam negeri, tekanan tambahan datang dari meningkatnya kebutuhan pembiayaan pemerintah. Pada 2026, Indonesia menghadapi jatuh tempo utang sebesar Rp 833,96 triliun, yang menjadi salah satu level tertinggi dalam satu dekade terakhir. Kondisi ini menambah tantangan dalam pengelolaan fiskal di tengah volatilitas pasar keuangan global.
Sementara itu, data ekonomi AS justru memberikan dukungan bagi penguatan dolar. Penjualan ritel AS pada Maret 2026 tercatat tumbuh 1,7% secara bulanan, melampaui ekspektasi pasar dan menunjukkan ketahanan konsumsi domestik.
Dengan kombinasi tekanan eksternal dan domestik tersebut, pergerakan rupiah diperkirakan masih terbatas dalam jangka pendek. Kebijakan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia diproyeksikan tetap berada di level 4,75% untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan meredam volatilitas pasar.
Ke depan, rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang Rp 17.125 hingga Rp 17.225 per dolar AS, seiring pasar yang masih dipengaruhi sentimen global dan arah kebijakan ekonomi utama dunia.


Tinggalkan Balasan