suarakarsa.com – Harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) kembali mengalami penurunan pada perdagangan Sabtu (6/6/2026), setelah sempat menguat pada hari sebelumnya. Pelemahan harga emas domestik terjadi di tengah tekanan yang juga melanda pasar emas global akibat menguatnya ekspektasi suku bunga tinggi di Amerika Serikat (AS).

Berdasarkan data resmi Logam Mulia, harga emas Antam turun Rp32.000 menjadi Rp2.738.000 per gram, dari posisi sebelumnya Rp2.770.000 per gram.

Penurunan yang lebih tajam terjadi pada harga buyback atau harga pembelian kembali oleh Antam. Nilai buyback anjlok Rp52.000 menjadi Rp2.531.000 per gram, dari sebelumnya Rp2.583.000 per gram.

Harga buyback merupakan harga yang diterima pemilik emas apabila menjual kembali logam mulia kepada Antam.

Meski mengalami penurunan, harga emas saat ini masih berada pada level yang relatif tinggi dibandingkan rata-rata historis. Sebagai perbandingan, harga emas Antam sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang masa pada 29 Januari 2026 di level Rp3.168.000 per gram, dengan harga buyback mencapai Rp2.989.000 per gram.

Daftar Harga Emas Antam Hari Ini

Berikut rincian harga emas Antam berdasarkan ukuran pecahan pada Sabtu (6/6/2026):

  • 0,5 gram: Rp1.419.000
  • 1 gram: Rp2.738.000
  • 2 gram: Rp5.416.000
  • 3 gram: Rp8.099.000
  • 5 gram: Rp13.465.000
  • 10 gram: Rp26.875.000
  • 25 gram: Rp67.062.000
  • 50 gram: Rp134.045.000
  • 100 gram: Rp268.012.000
  • 250 gram: Rp669.765.000
  • 500 gram: Rp1.339.320.000
  • 1.000 gram: Rp2.678.600.000

Pelemahan harga emas Antam sejalan dengan penurunan tajam yang terjadi di pasar global. Pada perdagangan Jumat waktu Amerika Serikat atau Sabtu waktu Indonesia, harga emas dunia terkoreksi lebih dari 2 persen setelah data ketenagakerjaan AS menunjukkan kondisi ekonomi yang lebih kuat dibandingkan perkiraan pasar.

Harga emas spot tercatat turun 2,2 persen menjadi US$4.375,19 per ons, sementara kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus melemah 2,2 persen ke level US$4.405,10 per ons.

Secara mingguan, harga emas global telah mengalami penurunan sekitar 3,6 persen.

Tekanan terhadap emas muncul setelah Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan bahwa sektor nonpertanian atau nonfarm payrolls menciptakan 172.000 lapangan kerja baru pada Mei 2026. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan proyeksi ekonom yang hanya memperkirakan tambahan sekitar 85.000 pekerjaan.

Kinerja pasar tenaga kerja yang kuat menandakan ekonomi AS masih cukup solid sehingga mengurangi kebutuhan bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) untuk segera menurunkan suku bunga.

Data ketenagakerjaan yang positif membuat pelaku pasar memperkirakan kebijakan moneter AS akan tetap ketat dalam waktu lebih lama.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada Desember 2026 kini mencapai sekitar 68 persen. Sebelum data tenaga kerja dirilis, peluang tersebut masih berada di kisaran 50 persen.

Ekspektasi suku bunga tinggi menjadi sentimen negatif bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil seperti deposito atau obligasi. Ketika suku bunga naik, investor cenderung mengalihkan dana ke instrumen keuangan yang menawarkan return lebih tinggi.

Analis juga menilai kenaikan harga energi akibat konflik geopolitik di Timur Tengah berpotensi mendorong inflasi tetap tinggi, sehingga semakin memperkuat alasan The Fed mempertahankan kebijakan moneter yang ketat.

Setelah data ketenagakerjaan dirilis, imbal hasil atau yield obligasi pemerintah AS langsung melonjak. Kenaikan yield tersebut meningkatkan biaya peluang bagi investor untuk menyimpan emas.

Di saat yang sama, harga minyak mentah dunia bergerak menguat karena meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Lonjakan harga energi berpotensi memperburuk inflasi global dan membuat bank sentral lebih berhati-hati dalam melonggarkan kebijakan moneternya.

Sejak konflik yang melibatkan Iran pecah pada akhir Februari lalu, harga emas dunia telah terkoreksi lebih dari 16 persen dari level puncaknya.

Selain faktor suku bunga, pasar emas juga menghadapi pelemahan permintaan fisik dari sejumlah negara konsumen utama.

Permintaan emas di India dilaporkan masih lesu sepanjang pekan ini, sementara premi harga emas di China turut mengalami penurunan. Kondisi tersebut menunjukkan minat pembelian fisik belum cukup kuat untuk menopang harga emas di tengah tekanan pasar keuangan global.

Tidak hanya emas, logam mulia lainnya juga mengalami koreksi cukup tajam.

Harga perak spot turun 5,8 persen menjadi US$69,50 per ons. Sementara itu, platinum melemah 3 persen ke level US$1.842,70 per ons dan paladium turun 1,6 persen menjadi US$1.299,25 per ons.

Ketiga logam mulia tersebut juga tercatat berada di jalur pelemahan secara mingguan.

Analis menilai pergerakan harga emas dalam jangka pendek masih akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan data ekonomi Amerika Serikat, arah kebijakan suku bunga The Fed, serta dinamika geopolitik global.

Jika inflasi tetap tinggi dan ekonomi AS terus menunjukkan ketahanan, peluang suku bunga bertahan di level tinggi akan semakin besar. Kondisi tersebut berpotensi menahan laju penguatan harga emas dalam beberapa bulan mendatang.

Meski demikian, emas masih dipandang sebagai salah satu instrumen lindung nilai yang menarik dalam jangka panjang, terutama ketika ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global kembali meningkat.