suarakarsa.com – Bank Indonesia (BI) mengungkapkan lonjakan harga emas dalam setahun terakhir dipicu oleh pergeseran perilaku investor global yang mengalihkan dana ke aset aman (safe haven) di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.

Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengatakan meningkatnya tensi geopolitik serta ketidakpastian arah kebijakan moneter global membuat pelaku pasar meninggalkan aset berisiko. Dalam situasi tersebut, emas kembali menjadi instrumen lindung nilai utama.

“Banyak para investor dan pelaku pasar mereka cari yang safe haven. Jadi enggak heran emas ini harganya dalam satu tahun terakhir saja naiknya sudah lebih dari dua kali lipat,” ujar Destry dalam acara CNBC Indonesia Outlook, Selasa (10/2).

Menurutnya, kenaikan harga emas dalam satu tahun terakhir tergolong ekstrem dan mencerminkan pergeseran besar dalam preferensi investasi global. Investor kini semakin selektif dalam memilih instrumen yang dinilai mampu memberikan imbal hasil optimal sekaligus perlindungan nilai di tengah ketidakpastian ekonomi.

Destry mencontohkan, pada awal tahun lalu harga emas masih berada di kisaran Rp1,1 juta per gram. Kini, harganya telah mendekati Rp3 juta per gram.

“Artinya memang terjadi pergeseran,” katanya.

Lebih lanjut, Destry menegaskan bahwa perubahan preferensi investasi global tersebut turut memberi tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Pasalnya, arus dana global cenderung bergerak ke instrumen dan mata uang yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi.

“Uang itu enggak ada yang loyal. Uang itu hanya loyal pada berapa return yang saya dapat dengan 1 persen atau 1 rupiah atau 1 dolar saya invest,” tegasnya.

Meski demikian, ia memastikan Bank Indonesia akan terus hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Namun, upaya stabilisasi tersebut membutuhkan proses dan tidak dapat dilakukan secara instan.

“Susah ya bisa rupiah dalam sekejap, satu hari langsung menguat. Itu enggak akan bisa. Kita butuh suatu proses, karena kita ingin tumbuh bersama, kita ingin kuat bersama tentu dengan industri dan dengan market,” pungkas Destry.