“Persepsi pertanian yang hanya cukup untuk menutupi kebutuhan sendiri, itu harus dihilangkan. Kita harua berfikir  bagaimana menghasilkan duit sebanyak- banyaknya yaitu dengan membangun sistem agtibisnis yang baik.

Dengan kepemilikan lahan 0,3 hektar perpetani, dengan alsintanpun hasilnya tidak akan maksimal. Maka melalui KEP dengan menggabungkan Poktan dan Gapoktan harus terbangun. Berfikir bisnis, efisiensi, meningkatkan produktivitas dan kualitas  sehingga bisa bersaing serta meningkatkan kesejahteraan petani,” tegas Kabadan Dedi.

Sementara itu, Kepala Bidang Penyuluhan, Dinas Pertanian Provinsi Jawa Tengah, Dani Harun mengatakan bahwa dengan diadakannya Bimtek pengembangan KEP dan KWT, maka mampu menyumbangkan deplasi Provinsi Jawa. Menurutnya, ini merupakan momentum penting bagi keberlanjutan dalam meningkatkan bisnis KEP dan KWT.