suarakarsa.com – Harga minyak mentah dunia turun tajam lebih dari 5 persen pada perdagangan Rabu (25/3) setelah Amerika Serikat (AS) mengajukan proposal berisi 15 poin rencana untuk mengakhiri konflik dengan Iran. Langkah ini memunculkan harapan akan gencatan senjata dan meredakan gangguan pasokan energi global.

Mengutip laporan Reuters, harga minyak mentah berjangka Brent turun sebesar US$6,21 atau 5,9 persen menjadi US$98,28 per barel. Sementara itu, minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) AS merosot US$4,67 atau 5,1 persen ke level US$87,68 per barel, setelah sempat menyentuh titik terendah di US$86,72.

Kepala Strategi Nissan Securities Investment, Hiroyuki Kikukawa, menilai ekspektasi pasar terhadap tercapainya gencatan senjata mulai meningkat, meskipun belum sepenuhnya pasti.

“Ekspektasi akan gencatan senjata telah meningkat sedikit dan aksi ambil untung kini memimpin pasar. Namun, prospek keberhasilan negosiasi masih belum pasti, sehingga menahan aksi jual lebih lanjut,” ujarnya.

Pasar energi global masih dibayangi ketidakpastian. Jika konflik terus berlanjut dan serangan Iran meluas ke fasilitas energi di negara-negara tetangga, atau tekanan untuk menutup Selat Hormuz meningkat, harga minyak berpotensi kembali melonjak.

Pada Selasa (24/3), Presiden AS Donald Trump menyatakan pihaknya telah mencapai kemajuan dalam perundingan penghentian perang dengan Iran. Sumber menyebutkan Washington telah mengirimkan proposal damai yang mencakup 15 poin kepada Teheran.

Laporan media Israel juga menyebutkan AS tengah mengupayakan gencatan senjata selama satu bulan. Kesepakatan tersebut mencakup pembongkaran program nuklir Iran, penghentian dukungan terhadap kelompok proksi, serta pembukaan kembali Selat Hormuz.

Sejak konflik antara Iran melawan invasi AS dan Israel pecah, distribusi minyak dan gas alam cair melalui Selat Hormuz sempat terhenti. Padahal, sekitar seperlima pasokan minyak mentah dan gas dunia biasanya melewati jalur tersebut.

International Energy Agency (IEA) bahkan menyebut penutupan Selat Hormuz sebagai salah satu gangguan pasokan minyak terbesar yang pernah terjadi.

Di tengah ketegangan, Perdana Menteri Pakistan menyatakan kesiapan negaranya menjadi tuan rumah perundingan antara AS dan Iran. Meski demikian, pihak Iran sebelumnya membantah tengah terlibat dalam negosiasi langsung dengan Washington.

Berdasarkan dokumen yang dilihat Reuters, Iran juga telah memberi tahu Dewan Keamanan PBB dan Organisasi Maritim Internasional (IMO) bahwa kapal non-musuh masih dapat melintasi Selat Hormuz dengan koordinasi tertentu.

Namun demikian, situasi di kawasan masih belum sepenuhnya stabil. Serangan dari pihak AS, Israel, dan Iran dilaporkan masih terjadi, sementara Washington disebut tengah bersiap mengirim tambahan pasukan ke wilayah sekitar Selat Hormuz.

Dampak dari penutupan jalur strategis tersebut juga terlihat pada lonjakan ekspor minyak dari pelabuhan Yanbu di Laut Merah, Arab Saudi, yang mencapai hampir 4 juta barel per hari pada pekan lalu—naik signifikan dibandingkan sebelum konflik berlangsung.