suarakarsa.com, Gowa – Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Gowa kembali menggelar Milenial Agriculture Forum (MAF) Vol. 7 Edisi 25 dengan tema “Transformasi Pengendalian OPT Modern untuk Menjaga Produktivitas Pertanian Nasional”. Kegiatan yang berlangsung secara hybrid di Kampus I Polbangtan Gowa, Sabtu (20/6/2026), diikuti 748 peserta melalui Zoom Meeting.

Forum menghadirkan tiga narasumber dari kalangan akademisi, karantina pertanian, dan praktisi perlindungan tanaman untuk membahas strategi pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) yang modern, adaptif, dan berkelanjutan. Diskusi dipandu oleh Ufiana Sara.

Narasumber pertama, Siti Subandiyah dari Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, menegaskan bahwa kesehatan tanaman menjadi faktor penting dalam menjaga produktivitas pertanian, kelestarian lingkungan, dan ketahanan pangan nasional. Menurutnya, perubahan iklim, tingginya mobilitas komoditas pertanian, serta munculnya OPT baru menuntut penerapan manajemen kesehatan tanaman yang lebih modern dan terintegrasi.

Peserta Zoom Meeting Milenial Agriculture Forum (MAF) Vol. 7 Edisi 25. (Sumber Humas Polbangtan Gowa)

Ia juga menekankan pentingnya peran Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) sebagai garda terdepan dalam pengamatan, deteksi dini, dan pengendalian OPT di lapangan.

Selanjutnya, Nawisah dari Balai Besar Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Sulawesi Selatan menjelaskan bahwa pemanfaatan teknologi digital seperti Artificial Intelligence (AI), Internet of Things (IoT), penginderaan jauh (remote sensing), sistem informasi perlindungan tanaman, dan analisis data spasial dapat meningkatkan akurasi pemantauan serta prediksi serangan OPT.

Menurutnya, inovasi dan riset menjadi fondasi penting dalam membangun sistem pengendalian yang efektif, efisien, ramah lingkungan, dan sejalan dengan prinsip Pengendalian Hama Terpadu (PHT).

Sementara itu, Safaruddin dari UPT BPTPH Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Provinsi Sulawesi Selatan menjelaskan bahwa sistem perkarantinaan tumbuhan berperan strategis dalam mencegah masuk, tersebar, dan keluarnya Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK).

Melalui pengawasan lalu lintas media pembawa, sertifikasi kesehatan tumbuhan, serta analisis risiko OPT, sistem karantina tidak hanya melindungi sumber daya hayati pertanian, tetapi juga menjaga akses pasar dan meningkatkan daya saing komoditas pertanian Indonesia melalui pemenuhan standar sanitari dan fitosanitari (SPS).

Dalam sesi diskusi, para narasumber sepakat bahwa keberhasilan perlindungan tanaman memerlukan kolaborasi pemerintah, POPT, petugas karantina, perguruan tinggi, peneliti, pelaku usaha, dan petani. Sinergi tersebut menjadi kunci membangun sistem perlindungan tanaman yang tangguh, mulai dari pencegahan, deteksi dini, pengendalian, hingga pemulihan secara berkelanjutan.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa transformasi menuju pertanian modern merupakan langkah strategis untuk meningkatkan efisiensi usaha tani.

“Kita harus bertransformasi menuju pertanian modern. Proses usahatani akan lebih efisien dan biaya produksi juga lebih murah,” ujar Amran.

Senada, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Idha Widi Arsanti, menegaskan bahwa transformasi pengendalian OPT harus dilakukan secara presisi, adaptif, dan berbasis teknologi guna menjaga produktivitas pertanian di tengah tantangan perubahan iklim serta meningkatnya ancaman hama dan penyakit tanaman.

Sementara itu, Kepala Pusat Pendidikan Pertanian, Muhammad Amin Awaludin, menekankan bahwa pendidikan vokasi memiliki peran strategis dalam mencetak SDM pertanian yang mampu memanfaatkan teknologi untuk deteksi dini, monitoring, dan pengendalian OPT secara efektif.

“Pertanian modern membutuhkan SDM yang tidak hanya menguasai budidaya, tetapi juga mampu mengadopsi teknologi untuk mendukung sistem perlindungan tanaman yang lebih presisi dan berkelanjutan,” ujarnya.

Melalui penyelenggaraan MAF Vol. 7 Edisi 25, Polbangtan Gowa terus menunjukkan komitmennya dalam mencetak SDM pertanian yang unggul dan adaptif terhadap perkembangan teknologi. Penguatan kolaborasi, digitalisasi perlindungan tanaman, dan pemanfaatan inovasi diharapkan mampu meningkatkan produktivitas pertanian, menjaga ketahanan pangan nasional, serta mewujudkan sektor pertanian Indonesia yang maju, modern, dan berdaya saing global.