suarakarsa.com – Harga emas produksi Galeri24, Antam, dan UBS di Pegadaian kompak mengalami kenaikan pada perdagangan Rabu (28/10/2026). Dari ketiga produk logam mulia tersebut, emas Antam masih mencatatkan harga tertinggi dengan banderol mencapai Rp 2.609.000 per gram.

Mengutip laman resmi Pegadaian, berdasarkan pemantauan pukul 11.02 WIB, harga emas Galeri24 naik menjadi Rp 2.499.000 per gram. Angka tersebut meningkat Rp 21.000 dibandingkan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp 2.478.000 per gram.

Kenaikan juga terjadi pada emas Antam. Harga emas produksi perusahaan tersebut mencapai Rp 2.609.000 per gram, naik Rp 20.000 dari posisi perdagangan Selasa (27/10/2026) sebesar Rp 2.589.000 per gram.

Sementara itu, harga emas UBS dipatok Rp 2.524.000 per gram. Harga tersebut meningkat Rp 23.000 dibandingkan perdagangan sebelumnya yang tercatat Rp 2.501.000 per gram.

Dengan kenaikan tersebut, emas Antam masih menjadi produk dengan harga jual tertinggi di Pegadaian, disusul UBS dan Galeri24.

Harga emas di Pegadaian dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti pembaruan yang dilakukan perusahaan.

Ketiga produk emas batangan tersebut tersedia dalam berbagai pilihan ukuran. Galeri24 menawarkan emas mulai dari 0,5 gram hingga 1.000 gram atau 1 kilogram. Emas UBS tersedia mulai 0,5 gram hingga 500 gram, sedangkan Antam memiliki pilihan ukuran mulai 0,5 gram hingga 100 gram.

Beragam pilihan ukuran tersebut memberikan keleluasaan bagi masyarakat untuk membeli emas sesuai kebutuhan dan kemampuan anggaran.

Daftar Harga Emas Pegadaian 28 Oktober 2026

Berikut rincian harga emas Galeri24, Antam, dan UBS di Pegadaian pada Rabu (28/10/2026):

1. Harga Emas Galeri24

  • 0,5 gram: Rp 1.311.000
  • 1 gram: Rp 2.499.000
  • 2 gram: Rp 4.938.000
  • 5 gram: Rp 12.254.000
  • 10 gram: Rp 24.443.000
  • 25 gram: Rp 60.778.000
  • 50 gram: Rp 121.460.000
  • 100 gram: Rp 242.799.000
  • 250 gram: Rp 605.507.000
  • 500 gram: Rp 1.211.014.000
  • 1.000 gram: Rp 2.422.026.000

2. Harga Emas Antam

  • 0,5 gram: Rp 1.356.000
  • 1 gram: Rp 2.609.000
  • 2 gram: Rp 5.157.000
  • 3 gram: Rp 7.709.000
  • 5 gram: Rp 12.815.000
  • 10 gram: Rp 25.573.000
  • 25 gram: Rp 63.805.000
  • 50 gram: Rp 127.530.000
  • 100 gram: Rp 254.981.000

3. Harga Emas UBS

  • 0,5 gram: Rp 1.364.000
  • 1 gram: Rp 2.524.000
  • 2 gram: Rp 5.008.000
  • 5 gram: Rp 12.374.000
  • 10 gram: Rp 24.618.000
  • 25 gram: Rp 61.424.000
  • 50 gram: Rp 122.595.000
  • 100 gram: Rp 245.091.000
  • 250 gram: Rp 612.548.000
  • 500 gram: Rp 1.223.658.000

Harga Emas Dunia Menguat, Pasar Menanti Keputusan The Fed

Kenaikan harga emas di dalam negeri terjadi seiring dengan penguatan harga emas dunia. Pada perdagangan Selasa (27/10/2026) atau Rabu pagi waktu Jakarta, harga emas global naik sekitar 1 persen.

Mengutip CNBC, harga emas di pasar spot menguat 0,9 persen menjadi US$ 4.051,78 per ons. Sebelumnya, harga emas sempat menyentuh level terendah US$ 3.987,14 per ons dalam sesi perdagangan yang sama.

Sementara itu, kontrak berjangka emas Amerika Serikat (AS) untuk pengiriman Desember naik 0,69 persen menjadi US$ 4.066,40 per ons.

Penguatan harga emas dunia ditopang oleh penurunan harga minyak yang meredakan kekhawatiran inflasi. Selain itu, pelaku pasar tengah menantikan pertemuan kebijakan Federal Reserve (The Fed) untuk memperoleh petunjuk mengenai arah suku bunga AS.

Vice President and Senior Metals Strategist Zaner Metals, Peter Grant, mengatakan penurunan harga minyak berpotensi memberikan dukungan terhadap emas karena dapat mengurangi tekanan inflasi dan melunakkan sikap agresif bank sentral AS.

“Harga minyak yang lebih rendah kemungkinan akan memberikan dorongan bagi emas karena meredakan kekhawatiran inflasi dan, bisa dibilang, sedikit melunakkan sikap agresif (hawkish) Federal Reserve,” ujar Peter Grant.

Ia menambahkan, pergerakan pasar saat ini juga dipengaruhi oleh perkembangan situasi geopolitik di Timur Tengah dan negosiasi yang masih berlangsung.

Kontrak berjangka minyak tercatat turun lebih dari 1 persen pada Selasa seiring perhatian pasar yang beralih pada pembicaraan perdamaian di Timur Tengah. Meski demikian, harga minyak masih berada di dekat level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir di tengah ketegangan geopolitik kawasan tersebut.

Di sisi lain, Analis American Gold Exchange, Jim Wyckoff, mengingatkan bahwa kenaikan harga minyak mentah secara berkelanjutan dapat memicu inflasi. Kondisi tersebut berpotensi mendorong bank sentral mempertahankan kebijakan moneter ketat atau menaikkan suku bunga.

Menurutnya, situasi tersebut dapat menjadi sentimen negatif bagi harga emas.

Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga AS Jadi Perhatian

Selain perkembangan harga minyak, kebijakan suku bunga The Fed menjadi faktor penting yang diperhatikan investor emas.

Para pengambil kebijakan The Fed sebelumnya telah mengisyaratkan tidak akan menaikkan suku bunga jangka pendek AS pada pekan ini. Namun, kekhawatiran terhadap inflasi membuat pelaku pasar memperkirakan kebijakan tersebut berpotensi berubah dalam waktu dekat.

Berdasarkan perangkat FedWatch dari CME, para pedagang memperkirakan peluang kenaikan suku bunga AS pada Desember mencapai 83 persen.

Suku bunga yang lebih tinggi cenderung memberikan tekanan terhadap harga emas. Hal ini karena emas merupakan aset yang tidak memberikan imbal hasil, sehingga kenaikan suku bunga meningkatkan biaya peluang bagi investor yang memilih menyimpan logam mulia.

Pelaku pasar juga menantikan rilis data Pengeluaran Konsumsi Pribadi atau Personal Consumption Expenditures (PCE) AS pada Kamis. Indikator tersebut menjadi salah satu acuan utama The Fed dalam mengukur perkembangan inflasi untuk mencapai target sebesar 2 persen.

Sementara itu, survei Reuters menunjukkan para analis telah menurunkan proyeksi harga emas sepanjang 2026 selama dua kuartal berturut-turut. Revisi tersebut dipengaruhi oleh tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS, penguatan dolar AS, serta ekspektasi suku bunga yang bertahan tinggi lebih lama.

Meski demikian, para analis masih memperkirakan harga emas berpeluang mengalami pemulihan pada 2027.

Di pasar logam mulia lainnya, harga perak spot naik 0,8 persen menjadi US$ 54,37 per ons setelah sempat menyentuh level terendah dalam hampir satu tahun.

Harga platinum turut menguat tipis 0,3 persen menjadi US$ 1.531,95 per ons setelah sebelumnya jatuh ke level terendah sejak akhir November 2025. Sebaliknya, harga paladium turun 1,4 persen menjadi US$ 1.035 per ons setelah sempat merosot ke level terendah sejak Juni 2025 pada sesi perdagangan sebelumnya.