suarakarsa.com – Harga minyak dunia melemah pada perdagangan Senin (26/10/2026), di tengah upaya Arab Saudi meredakan ketegangan dengan Iran. Langkah diplomatik tersebut meredakan sebagian kekhawatiran pasar terhadap risiko geopolitik yang selama ini menopang kenaikan harga minyak.

Mengutip CNBC, Selasa (27/10/2026), harga minyak mentah Brent berjangka turun 91 sen dan ditutup pada level US$ 115,81 per barel. Sebelumnya, harga Brent sempat menembus US$ 117 per barel pada awal perdagangan.

Pelemahan harga terjadi setelah Menteri Pertahanan Arab Saudi menggelar pembicaraan dengan para pemimpin Iran di Teheran. Pertemuan tersebut menjadi bagian dari upaya meredakan ketegangan antara kedua negara yang berpotensi mengganggu pasokan energi global.

Kendati demikian, risiko geopolitik masih menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan harga minyak. Kepala Investasi Gallo Partners, Michael Alfaro, memperkirakan ketidakpastian geopolitik telah menambah sekitar US$ 20 per barel terhadap harga minyak.

Menurut Alfaro, serangan signifikan terhadap jalur pipa East-West milik Arab Saudi maupun infrastruktur penyulingan minyak lainnya dapat memicu lonjakan harga secara tajam.

Namun, kenaikan harga hingga melampaui US$ 120 per barel juga berpotensi menekan permintaan. Kondisi tersebut dapat membuat konsumen dan pelaku industri mengurangi konsumsi energi akibat tingginya biaya.

Selain ancaman terhadap pasokan minyak mentah, kerusakan pada fasilitas penyulingan dapat menimbulkan dampak yang lebih panjang bagi pasar energi global.

Alfaro menilai persoalan utama tidak hanya terletak pada ketersediaan minyak mentah, tetapi juga pada kemampuan industri mengolah minyak menjadi bahan bakar yang dibutuhkan pasar.

“Tantangan yang sesungguhnya terletak pada kapasitas penyulingan,” ujar Alfaro.

Ia memperingatkan, gangguan terhadap infrastruktur energi berpotensi berkembang menjadi persoalan struktural jangka panjang yang berlanjut hingga 2027 dan seterusnya.

Di sisi lain, Arab Saudi berencana mulai menyimpan minyak mentah di Singapura pada paruh kedua 2027. Menurut keterangan menteri energi kedua negara, langkah tersebut ditujukan untuk memperkuat ketahanan rantai pasok energi di kawasan Asia.

Rencana itu menjadi bagian dari upaya menjaga keandalan distribusi minyak di tengah ketidakpastian geopolitik dan potensi gangguan pasokan.

Dari Amerika Serikat, Departemen Energi pada Jumat memberikan izin pelepasan hingga 400.000 barel minyak dari Cadangan Minyak Strategis (Strategic Petroleum Reserve atau SPR).

Langkah tersebut dilakukan untuk membantu mengatasi gangguan pasokan di sebuah kilang minyak di Louisiana.

Meski demikian, tambahan pasokan dari produsen minyak AS belum sepenuhnya dapat diandalkan. Perusahaan-perusahaan energi masih berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi besar di tengah fluktuasi harga dan tingginya risiko geopolitik.

Alfaro mengatakan, produsen minyak di AS memang mulai menambah jumlah anjungan pengeboran. Namun, peningkatan aktivitas tersebut belum diikuti komitmen belanja modal yang signifikan untuk memperluas kapasitas produksi.

“Kami tidak benar-benar melihat adanya penambahan belanja modal (capex) yang besar untuk menghadirkan anjungan pengeboran baru atau memulai produksi baru,” ungkapnya.

Sikap hati-hati produsen tersebut menunjukkan bahwa kenaikan harga minyak belum tentu langsung diikuti peningkatan produksi secara besar-besaran.

Dengan demikian, pergerakan harga minyak ke depan masih akan dipengaruhi oleh perkembangan hubungan Arab Saudi dan Iran, kondisi infrastruktur energi di Timur Tengah, serta kemampuan produsen global meningkatkan pasokan untuk memenuhi kebutuhan pasar.