suarakarsa.com – Pengabdian Suraji, seorang karyawan hotel yang menjadi relawan pemadam kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Bromo, berakhir duka. Warga Desa Lumbang, Kecamatan Lumbang, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, itu meninggal dunia di RSUD Dr. Soetomo Surabaya pada Jumat (23/10/2026) sekitar pukul 12.00 WIB.

Suraji mengembuskan napas terakhir setelah menjalani perawatan intensif akibat luka bakar seluas 45 persen pada tubuhnya saat berupaya memadamkan kebakaran di kawasan Gunung Bromo.

Kepergian Suraji meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan masyarakat sekitar. Di mata orang-orang terdekatnya, ia dikenal sebagai sosok yang ramah, gemar bercanda, aktif dalam kegiatan sosial, serta menjadi tulang punggung keluarga.

Sebelum dirujuk ke Surabaya, Suraji sempat mendapatkan penanganan darurat di fasilitas kesehatan di kawasan Sukapura, Probolinggo.

Namun, dokter menyarankan agar ia segera dibawa ke RSUD Dr. Soetomo Surabaya untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Langkah tersebut dilakukan guna mengantisipasi komplikasi pernapasan akibat paparan asap dan luka bakar parah.

Tim medis mengkhawatirkan risiko pembengkakan saluran pernapasan atau airway edema, yang dapat mengancam keselamatan pasien setelah mengalami paparan asap dan luka bakar.

Selama menjalani perawatan intensif, kondisi Suraji dilaporkan naik turun. Ia sempat berada dalam kondisi stabil, tetapi beberapa kali mengalami penurunan kesehatan.

Berbagai upaya medis dilakukan untuk menyelamatkan nyawanya. Suraji bahkan sempat menjalani dua kali operasi. Namun, setelah berjuang melawan luka bakar yang dideritanya, nyawanya tidak berhasil diselamatkan.

Duka mendalam dirasakan keluarga yang ditinggalkan. Setio, anak Suraji yang kini duduk di kelas XII SMA Negeri 1 Sukapura, mengenang ayahnya sebagai sosok yang baik, penyayang, dan suka bercanda ketika berada di rumah.

“Ya, kalau di rumah itu baik orangnya, suka bercanda,” kata Setio saat ditemui di kediamannya.

Menurut Setio, ayahnya selalu memberikan dukungan terhadap pendidikan dan kegemarannya bermain bola voli. Suraji juga kerap mengingatkan anaknya agar rajin belajar dan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

“Anu, buat suruh fokus sama sekolah itu yang giat, biar bisa sekolah lebih tinggi lagi,” tutur Setio mengenang pesan ayahnya.

Komunikasi terakhir Setio dengan Suraji terjadi pada Rabu malam sebelum musibah tersebut. Saat itu, ia mengaku tidak merasakan firasat apa pun mengenai kejadian yang akan menimpa ayahnya.

Setio juga sempat menemani ayahnya ketika mendapatkan penanganan awal di unit gawat darurat (UGD) Sukapura. Saat itu, Suraji masih dalam kondisi sadar dan sempat mengeluhkan rasa sakit yang luar biasa.

Kini, Setio harus kehilangan sosok ayah yang selama ini mendukung pendidikan dan menjadi penopang utama keluarga.

Kebaikan Suraji tidak hanya dikenang oleh keluarganya. Di lingkungan tempat tinggalnya, ia dikenal sebagai pribadi yang mudah bergaul dan aktif dalam kegiatan kemasyarakatan.

Perangkat Desa Lumbang, Suhardi Hari Cahyono, mengatakan bahwa Suraji merupakan sosok yang baik dan memiliki hubungan sosial yang erat dengan masyarakat sekitar. Suhardi juga merupakan teman masa kecil almarhum sejak duduk di bangku SMP.

“Beliau itu menurut saya sosok yang baik. Di lingkungan keluarga, di lingkungan masyarakat pandai bergaul,” ujar Suhardi.

Menurut Suhardi, kebakaran hutan dan lahan di kawasan Gunung Bromo kali ini juga merenggut nyawa Wisnu Yuda Pratama (25), seorang petugas keamanan hotel yang turut terjun sebagai relawan pemadam kebakaran.

Suhardi menyebut Suraji dan Wisnu sebagai sosok yang baik serta aktif dalam kegiatan lingkungan tempat tinggal dan kegiatan masjid.

Kepergian kedua relawan tersebut menjadi duka bagi keluarga dan masyarakat yang mengenal mereka.

Atas musibah yang merenggut nyawa Suraji, keluarga berharap prosedur penanganan kebakaran hutan dan lahan di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) dapat dievaluasi.

Keluarga menilai kecepatan penanganan kebakaran menjadi salah satu hal yang perlu mendapat perhatian agar risiko terhadap masyarakat dan relawan dapat diminimalkan.

“Ya, untuk penanganan kebakaran, mungkin dari pihak Taman Nasional untuk lebih cepat,” ungkap salah seorang anggota keluarga korban.

Keluarga juga berharap upaya pencegahan dan mitigasi kebakaran hutan di kawasan Gunung Bromo diperketat. Dengan demikian, kejadian serupa tidak kembali merenggut nyawa warga maupun relawan yang terjun membantu memadamkan api.

Bagi keluarga, Suraji bukan hanya seorang relawan yang berupaya membantu memadamkan kebakaran. Ia adalah seorang ayah yang penuh kasih sayang, pekerja keras, dan selalu mendorong anaknya untuk meraih pendidikan yang lebih tinggi.

Pengabdiannya meninggalkan kenangan mendalam bagi keluarga dan masyarakat yang kini harus menerima kepergiannya.