Teks
PT. Andala Bintang Sarana - Selalu Ada - PT. Andala Bintang Sarana - Selalu Ada - PT. Andala Bintang Sarana - Selalu Ada - PT. Andala Bintang Sarana - Selalu Ada -

KPK Periksa Wabendum AMIN Kasus Mentan

TEGAL – KPK memeriksa Ketua Dewan Pertimbangan NasDem Jawa Barat yang juga Wabendum Timnas AMIN, Rajiv, sebagai saksi kasus dugaan korupsi mantan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL). Capres nomor urut 1 Anies Baswedan meminta pemeriksaan itu dijalani saja.

“Udahlah, kita jalani saja,” kata Anies usai kampanye akbar di Lapangan Pendawa, Slawi, Kabupaten Tegal, Selasa (30/1/2024).

Anies enggan berkomentar lebih lanjut soal pemanggilan salah satu petinggi tim suksesnya itu.

Sebelumnya, Rajiv telah menjalani pemeriksaan di Gedung KPK, Jakarta Selatan. Rajiv mengaku ditanya 10 pertanyaan oleh penyidik.

“Di luar biodata, ada 10 (pertanyaan) kali ya. (Materi pertanyaan) bukan kualitas saya, penyidik,” kata Rajiv usai diperiksa di Gedung KPK, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (30/1).

Rajiv mengatakan dirinya dipanggil untuk diperiksa pada Jumat (26/1), namun berhalangan hadir. Rajiv mengatakan dirinya meminta penjadwalan ulang.

Rajiv mengaku yakin KPK dan penyidik profesional dalam mengusut kasus ini. Dia menyerahkan penilaian kepada publik terkait kasus ini.

Baca Juga  Kejaksaan RI Didesak Periksa dan Tersangkakan Gubernur dan Perusda Sulawesi Tenggara

“Merasa politik, saya no comment, biar masyarakat menilai. Tapi saya yakin penyidik profesional, KPK profesional, kita doain insyaallah,” ucapnya.

Dalam kasus ini, KPK telah menetapkan SYL, Direktur Alat dan Mesin Pertanian Kementan nonaktif Muhammad Hatta, serta Sekjen Kementan nonaktif Kasdi Subagyono sebagai tersangka. Mereka diduga melakukan pemerasan dan gratifikasi.

Ketiganya diduga melakukan pemerasan kepada ASN di Kementan. Duit setoran itu diberikan ASN Kementan lewat Kasdi dan Hatta. Jumlahnya USD 4.000-10.000 per bulan. KPK menduga SYL, Kasdi, dan Hatta telah menikmati Rp 13,9 miliar.

Selain itu, SYL dijerat dengan pasal dugaan tindak pidana pencucian uang. Dia diduga menggunakan uang setoran ASN Kementan itu untuk membayar cicilan Alphard, perawatan wajah, hingga umrah.(SW)

urut 1 Anies Baswedan meminta pemeriksaan itu dijalani saja.

“Udahlah, kita jalani saja,” kata Anies usai kampanye akbar di Lapangan Pendawa, Slawi, Kabupaten Tegal, Selasa (30/1/2024).

Baca Juga  Tim AMIN dan Ganjar - Mahfud Kompak Siapkan Bantuan Hukum untuk Budayawan Butet Kartaredjasa

Anies enggan berkomentar lebih lanjut soal pemanggilan salah satu petinggi tim suksesnya itu.

Sebelumnya, Rajiv telah menjalani pemeriksaan di Gedung KPK, Jakarta Selatan. Rajiv mengaku ditanya 10 pertanyaan oleh penyidik.

“Di luar biodata, ada 10 (pertanyaan) kali ya. (Materi pertanyaan) bukan kualitas saya, penyidik,” kata Rajiv usai diperiksa di Gedung KPK, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (30/1).

Rajiv mengatakan dirinya dipanggil untuk diperiksa pada Jumat (26/1), namun berhalangan hadir. Rajiv mengatakan dirinya meminta penjadwalan ulang.

Rajiv mengaku yakin KPK dan penyidik profesional dalam mengusut kasus ini. Dia menyerahkan penilaian kepada publik terkait kasus ini.

“Merasa politik, saya no comment, biar masyarakat menilai. Tapi saya yakin penyidik profesional, KPK profesional, kita doain insyaallah,” ucapnya.

Dalam kasus ini, KPK telah menetapkan SYL, Direktur Alat dan Mesin Pertanian Kementan nonaktif Muhammad Hatta, serta Sekjen Kementan nonaktif Kasdi Subagyono sebagai tersangka. Mereka diduga melakukan pemerasan dan gratifikasi.

Baca Juga  PB HMI Menilai Festival LIKE 2023 Kurang Menyentuh Akar Masalah Kehutanan

Ketiganya diduga melakukan pemerasan kepada ASN di Kementan. Duit setoran itu diberikan ASN Kementan lewat Kasdi dan Hatta. Jumlahnya USD 4.000-10.000 per bulan. KPK menduga SYL, Kasdi, dan Hatta telah menikmati Rp 13,9 miliar.

Selain itu, SYL dijerat dengan pasal dugaan tindak pidana pencucian uang. Dia diduga menggunakan uang setoran ASN Kementan itu untuk membayar cicilan Alphard, perawatan wajah, hingga umrah.(SW)